Ilustrasi

“Mengaplikasikan Kasih Kristus”

(Efesus 6:1-9)

Pendahuluan

Dalam  Surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus,  penulis menekankan Rencana Allah agar “Seluruh alam, baik  yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus  sebagai kepala” (1:10). Surat ini merupakan juga seruan kepada  umat Allah supaya mereka menghayati makna rencana agung dari  Allah itu untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus  Kristus.

Di dalam bagian pertama surat Efesus ini dikemukakan bagaimana penyatuan itu terjadi. Untuk menjelaskan hal itu ia menceritakan bagaimana Allah Bapa telah memilih umat-Nya, bagaimana Allah melalui Yesus Kristus, Anak-Nya, mengampuni dan membebaskan umat-Nya dari dosa, dan bagaimana janji Allah itu dijamin oleh  Roh Allah. Di dalam bagian kedua, diserukan kepada para  pembacanya supaya mereka hidup rukun agar kesatuan mereka sebagai  umat yang percaya kepada Kristus dapat terlaksana.

Untuk menunjukkan bahwa umat Allah sudah menjadi satu karena bersatu dengan Kristus, penulis memakai beberapa kiasan. Jemaat adalah seperti tubuh dengan Kristus sebagai kepalanya, atau seperti sebuah bangunan yang batu sendinya ialah Kristus, atau seperti seorang istri dengan Kristus sebagai suaminya. Kasih Kristus adalah kasih yang sempurna yang ditunjukan Allah kepada kita, dan sebuah keharusan untuk kita mengaplikasikannya dalam berkehidupan. Seperti apa mengaplikasikan Kasih Kristus?

1.Orang yang mengaplikasikan Kasih Kristus adalah orang yang memiliki sikap hormat . (ayat 1-2).

Ayat 1. Menurut teks bahasa Yunani Efesus 6:1 kata “ taatilah” adalah ὑπακούετε yang berasal dari kata ὑπακούῳ, yang dalam bahasa inggris listen to, obey, follow dan berbentuk presen aktif imperatif. Fungsi imperatif adalah suatu perintah untuk melanjutkan sebuah kegiatan yang sedang berlangsung.

Jadi, perintah untuk anak-anak bukan hanya taat, tetapi mendengarkan, dan mengikuti apa yang dikatakan orang tua, apa yang dilakukan, apapun itu semua didasari ada di dalam Tuhan. Artinya, apa yang diajarkan oleh orangtua, kita ikuti selama perintah itu sesuai dengan apa yang benar di dalam Tuhan, ataupun bisa dikatakan menghormati orangtua adalah kehendak Allah dan menghormati orangtua di dalam Tuhan adalah sesuatu yang tepat dan benar.

Dalam Alkitab bahasa Indonesia sehari – hari di situ dikatakan: “Anak-anak! Sebagai pengikut Kristus: taatilah orang tuamu karena itulah yang patut dilakukan”. Semua orang yang percaya Kristus bisa dikatakan pengikut Kristus. Tetapi kita tahu bahwa suatu kebanggan yang khusus yang diberikan Paulus kepada anak – anak, dengan dia mengatakan “Anak-anak sebagai pengikut Kristus” sebuah kehormatan bagi anak – anak. Dengan Paulus memerintahkan kepada anak – anak untuk menaati orangtua dan memberikan penegasan kepada anak – anak bahwa perintaah untuk menaati orangtua adalah hal yang patut untuk anak – anak lakukan. Dengan kata lain Paulus ingin menegaskan, bahwa perintah untuk menaati orangtua di dalam Tuhan tidak ada kata tidak, menghormati orang tua adalah suatu tindakan yang benar dan merupakan kebenaran.

Ayat 2. ayat ini merupakan penekanan kembali dari ayat pertama. Dalam ayat pertama Paulus menyuarakan bahwa taatilah orangtua dan juga pada ayat yang kedua ini Paulus menekankan dengan hormatilah ayah mu dan ibu mu. Jadi bisa dikatakan bahwa perintah untuk mengormati orang tua adalah keharusan bagi anak – anak. Biasanya suatu perintah yang ditekankan atau berulang – ulang kali diperdengarkan atau dikumandangkan memiliki pengaruh saat kita melakukan hal yang diperintahkan.

Dalam bahasa Yunani kalimat dalam ayat yang kedua ini diawali oleh kata τίμαῳ yang dalam bahasa Inggris honor yaitu kehormatan, kesucian, kartu – kartu yang tertinggi, menghormati. Dan bentuknya adalah presen aktif imperatif orang kedua tunggal. Fungsi dari presen aktif imperatif adalah suatu perintah untuk melanjutkan sebuah kegiatan yang sedang berlangsung. Perintah untuk menghormati orang tua adalah hal yang penting. Dalam Alkitab Indonesia terjemahan lama, berbunyi seperti ini: “Hormatkanlah ibu bapamu (maka itulah hukum yang pertama dengan suatu perjanjian),”. Dalam ayat ini menunjuk kepada hukum yang pertama (dalam KJV: first commandment dan commandment menunjuk kepada The ten Commandment). Hukum yang pertama menunjuk kepada 10 Hukum dan dalam 10 Hukum ini, pada hukum yang kelima sanagat jelas Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Kel. 20:12).

Jadi, orangtua (bapa dan ibu) harus dihormati, bukan saja hanya sekedar menghormati, tetapi menghormati dengan kesucian. Artinya menghormati dengan motivasi yang benar, menghormati dengan memberikan penghargaan tertinggi. Menghormati orangtua adalah hukum Allah dan dalam hukum ini mengandung janji. Jadi dalam hukum ini mengandung sebab akibat, saat kita melakukan hukum ini, maka kita mendapatkan janji itu.

2. Orang yang mengaplikasikan Kasih Kristus adalah orang yang memiliki sikap bertanggungjawab. (ayat. 4).

Ayat 4. Ayat ini diawali dengan kata “dan” dalam bahasa Yunani yaitu Καὶ yang berfungsi sebagai kata penghubung (konjungsi). Bisa dikatakan bahwa ayat empat merupakan sambungan dari ayat tiga, dengan kata lain ayat empat memiliki kesinambungan dengan ayat sebelumnya. Ayat empat diawali dengan kalimat “ Dan kamu, bapa-bapa” jadi kesinambungannya terletak kepada penerima pesan. Pada ayat yang pertama sampai dengan ayat yang ketiga penerima pesan adalah anak, apakah itu anak – anak kecil atau bisa juga orang dewasa yang masih memiliki orangtua. Tetapi pada ayat yang keempat terjadi peralihan pesan dari anak – anak kepada bapa – bapa. Di sini menjelaskan bahwa bukan hanya tanggung jawab dari anak – anak tetapi juga melihat tanggung jawab orang tua (bapa – bapa) kepada anak – anak.

Pesan kepada bapa – bapa berupa “janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak – anak mu” “μὴ παροργίζετε τὰ τέκνα ὑμῶν” kata μὴ dalam bahasa Inggris “not” yang berarti tidak, bukan, jangan. Kata παροργίζετε kata dasarnya adalah παροργίζῳ dalam bahasa indonesia: memancing, menimbulkan, membangkitkan dan bentuknya adalah presen aktif imperatif orang kedua jamak. Artinya, kondisi saat itu menggambarkan bahwa kejadian yang berlangsung itu adalah bapa – bapa selalu membangkitkan amarah di dalam hati anak – anak, sehingga Paulus memerintahkan bapa – bapa untuk berhenti melakukan, merangsang atau membangkitkan amarah di dalam hati anak – anak, tetapi didiklah mereka dengan ajaran dan nasihat Tuhan.

Jadi letak tanggung jawab adalah saat mendidik didalam ajaran dan nasehat Tuhan. Seorang anak jika dari kecil dibiasakan dengan dengan hal yang buruk pada hari depannya pasti selalu melakukan hal yang buruk, tetapi jika pada masa kecil ditanamkan ajaran dan nasehat Tuhan, pasti masa depannya penuh dengan harapan dan tidak melenceng dari jalan yang tetapkan.

3.Orang yang mengaplikasikan Kasih Kristus adalah orang yang memiliki sikap taat dan tulus. (Ayat 5-6).

Ayat 5. Ayat ini diawali dengan kalimat “ hai hamba – hamba” dalam bahasa Yunani δοῦλος yang memiliki pengertian hamba atau budak. Dari dua arti kata itu mengandung makna seorang ‘budak’ sama sekali tidak memiliki hak apapun juga, dan hidup hanya oleh anugerah-Nya dan dituntut untuk memuliakan-Nya, Sang Tuhan diatas segala Tuan. Ini berbicara tentang sebuah pengabdian dan pengabdian yang berkualitas harus dijalani dengan sikap setia. Jadi pada intinya Paulus menekankan suatu keharusan bagi seorang hamba untuk taat karena seorang yang telah dibeli untuk menjadi hamba, ia harus dan merupakan suatu kewajiban untuk taat kepada setiap perintah tuannya. Seorang hamba bukan hanya sekedar taat, tetapi taat dengan takut dan gentar, dengan tulus hati kepada tuanya yang ada di bumi. Ini memiliki arti bahwa seorang hamba harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh tuannya yang ada di bumi.

Paulus menjelaskan pada ayat ini mengenai hubungan atau relasi antara hamba dan tuan. Pada penggalan kalimat terakhir berbunyi: Sama seperti kamu taat kepada Kristus. Jadi, bisa dikatakan Paulus ingin memberitahukan kepada pembaca bahwa relasi antara hamba dan tuan, dimana hamba harus taat dengan takut dan gentar serta dengan hati yang tulus, begitu juga hubungan antara jemaat (bisa secara individual, masing – masing pribadi) dengan Kristus harus taat dan melakukan apa yang dikehendaki Kristus dengan tidak berbantah – bantah karena sudah seharusnya demikian seorang hamba.

Dalam Alkitab berbahasa Indonesia sehari – hari mengatakan : “Saudara-saudara yang menjadi hamba! Turutlah perintah tuanmu yang di dunia ini. Lakukanlah itu dengan perasaan hormat dan patuh serta dengan sungguh-sungguh seolah-olah kalian lakukan kepada Kristus sendiri”. Bisa dikatakan, pada dasarnya seorang hamba mengasihi tuanya dibumi sama seperti ia mengasihi Kristus atau bisa dikatakan jika hamba itu mengasihi dan menghormati Kristus, begitu juga dia harus perbuat kepada tuannya dibumi.

Ayat 6. Ayat ini merupakan sambungan dari ayat sebelumnya, bagaimana Paulus masih menekankan soal kepenundukan seorang hamba kepada tuannya, atau relasi antara hamba dan tuan. Paulus menegaskan bahwa, ITB “jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang” tetapi dalam BIS “Janganlah berlaku demikian hanya pada waktu kalian diawasi, hanya untuk mendapat pujian manusia”. Artinya, Paulus mengatakan kepada hamba – hamba bahwa kalian berlaku baik, taat, mengashi, bukan untuk mencari pujian dari manusia. Hamba menaati tuannya, hamba mengasihi tuanya, hamba berlaku baik untuk tuan bukan nanti tuannya ada bersama – sama dengan dia. Taat dan mengashi tuan bukan untuk mencari pujian dan kehormatan dari tuan, tetapi seorang hamba melakukan sikap yang seperti adalah kewajiban seorang hamba. Pada dasarnya Paulus ingin mengatakan bahwa, berhenti taat, mengasihi, bersikap baik, terhadap tuan, jika hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia.

Kalimat selanjutnya dalam ayat enam “tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah “. Saat Paulus berkata “ Jangan mencari pujian dari manusia” artinya berlaku baik bukan untuk mencari kesenangan dari tuan, taat bukan karena ingin dipuji. Tetapi berlaku baik, mengashi dan taat merupakan aplikasi dari kasih kepada Kristus. Dalam terjemahan IBIS “Tetapi hendaklah kalian melakukannya sebagai hamba Kristus yang sedang menuruti kemauan Allah dengan sepenuh hati”.

Jadi, bisa dikatakan bahwa sikap tunduk, sikap taat, sikap penghormatan kepada tuan yang di dunia, itu merupakan tindakan yang merupakan perintah, kemauan Allah. Artinya, Kewajiban seorang hamba kepada tuannya untuk taat bukan saat bersama – sama dengan dia, untuk mencari pujian tuannya, tetapi melakukan kewajibannya sebagai hamba Kristus yang sedang menuruti kemauan Allah dengan sepenuh hati.

Mengaplikasikan kasih Kristus harus dijalani dengan rasa taat dan tulus. Saat melakukan perintah dibarengi dengan sikap taat dan tulus, pasti apa yang kita lakukan akan memberikan hasil yang baik, dan hasil itu bukan hanya dinikmati oleh diri kita sendiri tetapi juga orang lain yang menikmati hasil dari yang kita lakukan. Itu semua terjadi karena kita mau membuat suatu pilihan atau komitmen dimana kita mau menjadi orang yang mengaplikasikan kasih Kristus.

Kesimpulan:

Jadilah orang – orang yang mengaplikasikan kasih Kristus dalam berkehidupan, sehingga kita sebagai orang Kristen mencerminkan kehidupan Kristus dalam hidup kita. Sikap hormat, sikap bertanggungjawab, sikap taat dan tulus akan membuat kehidupan kita berbeda, hidup kita menjadi contoh dalam masyarakat, dalam pekerjaan kita. Dan orang mengagumi kita karena melihat kehidupan kita yang begitu memancarkan cerminan Kristus yang penuh kasih itu. Hiduplah sebagai orang yang mengaplikasikan kasih Kristus.

Sumber :

Pdp Christ Balompapueng.M.Th

GBI Jl Mahena Tahuna Kel Bungalawang

Kabupaten Tahuna – Sulawesi Utara

 

Apa reaksi Anda tentang artikel ini ?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

GBI Bethany Kotamobagu Gelar Ibadah Pra Natal 2019

RELIGI KRISTEN, BULAWANEWS.COM – Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bethany Kotamobagu, Menggelar Ibadah Pra Natal bertempat ...