Sidang lanjutan kasus sengketa tanah Gogagoman di PN Kotamobagu (foto/david)

Pensiunan Pegawai Agraria Tahun 1990 an Bersaksi Kasus Perdata di PN Kotamobagu

HUKRIM, BULAWANEWS.COM –  Sidang lanjutan kasus sengketa tanah di kelurahan Gogagoman RT 25/08/ Lingkungan IV, Dengan nomor 70/Pdt.G/2017/PN.Ktg, Antara  Dr Sientje Mokoginta (penggugat) dan Adri Lomban dkk (tergugat) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu, Selasa (30/7/2018)

Sidang yang mendengarkan keterangan saksi penggugat dan tergugat ini dipimpin lansung Ketua Majelis Hakim, Nova L Sasube SH MH dan dua Anggota Hakim, Danes Romy SH bersama Bernadus Papendang SH, Serta di hadiri masing-masing kuasa hukum kedua belah pihak serta kantor badan pertanahan nasional (BPN) Kotamobagu

Dari pantauan Bulawanews.com , kuasa hukum penggugat, Boby Kaunang, SH menghadirkan tiga saksi fakta dalam perkara ini, diantaranya; Mukmin Mamonto (78) pensiunan pegawai agraria Kabupaten Bolaang Mongondow (1965-1995), Eduard Harisondakh ( 59) dan Eliezer Kadademahe  (52) keduanya adalah petani penggarap kebun seluas kurang lebih 2 Ha yang saat ini merupakan  objek sengketa

Untuk saksi tergugat hanya menghadirkan satu orang saksi bernama Sun Mokoginta warga Gogagoman yang masih ada hubungan keluarga dengan tergugat Stella Mokoginta,  Hasil konfirmasi bulawanews.com kepada kuasa hukum sesaat sebelum sidang dimulai sebenarnya telah mempersiapkan lima orang saksi, namun sampai sidang usai hanya satu orang saksi saja yang hadir dalam persidangan tersebut.

“Untuk saksi lain akan kami hadirkan pada proses persidangan berikutnya, disamping itu, masih ada bukti-bukti lain yang nantinya akan kami buka pada proses persidangan berikutnya,” ungkap Laura

Dalam kesaksiannya, Mukmin Mamonto (78) yang sudah lanjut usia ini mampu memberikan keterangan dengan jelas kepada majelis hakim, yang merupakan salah satu saksi fakta yang masih hidup yang mengukur, membuat sertifikat tanah dan mengetahui bahwa objek tanah sengketa dimiliki oleh (Alm) Hoa Mokoginta, Orang tua Sintje Mokoginta (–pen).

“Memang benar letaknya di Gogagoman (lokasi objek sengketa – pen) pasalnya, pada saat itu saya yang ditugaskan pertanahan untuk mengukur tanah tersebut dalam rangka pembuatan sertifikat  yang diajukan oleh Hoa Mokoginta,” jelas Mukmin kepada majelis hakim

Tepatnya tahun 1974, lanjut Mukmin, Ia ditemani satu orang rekan sekantornya menuju kantor desa Gogagoman untuk meminta pendampingan dari aparat desa dalam rangka melakukan pengukuran. Setelah pengukuran, berdasarkan pertaruran pertanahan UURI No 21 tahun 1997 pasal 16 ayat 3, pemohon diberikan waktu 3 bulan sebelum dikeluarkannya sertifikat, dengan tujuan menghindari adanya gugatan terhadap lahan tersebut. Berdasarkan itu hal tersebut dikeluarkanlah sertifikat atas nama Hoa Mokoginta SHM Nomor 98 Tahun 1978

Begitu halnya yang disampaikan saksi ke dua, Eduard Harisondakh ( 59) dan ke tiga, Eliezer Kadademahe  (52) membenarkan, bahwa lahan tersebut milik mami Hoa (Sapaan akrab Hoa Mokoginta –pen), pasalnya pada saat itu ke dua saksi pernah menggarap lahan tersebut  atas izin dari Hoa Mokoginta.

Adapun dengan keberadaan lahan yang dimiliki Marten Mokoginta (Alm. Orang tua Stella Mokoginta –pen) yang saat ini  diklaim tergugat berada dilokasi yang sama, ketika ditanyakan oleh majelis hakim, ketiga saks mengatakan dengan tegas  tidak mengetahui.

Seperti diketahui, setelah mendengarkan tiga orang saksi dari penggugat dan satu orang saksi dari tergugat,  sidang akan dilanjutkan pada hari, Selasa (7/8/2018) pekan depan, dengan agenda mendengarkan bebrapa saksi dari tergugat lainnya . (Man)

Komentar Facebook

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Wawali Nayodo Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 Hijriah

Ktamobagu__Wakil Walikota (wawali) Kota Kotamobagu, Nayodo Koerniawan, S.H., mewakili Walikota Kotamobagu, Ir. Tatong Bara, menghadiri ...