En bref:
- Makassar dukung kegiatan komunitas sebagai cara paling cepat menyentuh kebutuhan harian, dari pendidikan hingga layanan dasar.
- Sinergi Pemkot dengan organisasi sosial seperti RESOPA diarahkan agar program kota lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.
- Solidaritas warga diperkuat lewat model kerja lapangan: relawan kelurahan, brigade, dan koordinasi lintas sektor.
- Isu prioritas yang mudah diukur: standar pendidikan PAUD–SMP, pengelolaan sampah, serta akses air bersih.
- Kunci keberlanjutan ada pada kerjasama dengan DPRD, transparansi, dan partisipasi publik yang konsisten.
Di tengah ritme kota pelabuhan yang tak pernah benar-benar tidur, Makassar sedang menguatkan cara baru merawat “kota” sebagai ruang hidup bersama. Bukan semata lewat proyek besar, melainkan melalui kegiatan warga yang rapi, terukur, dan menyentuh lapisan paling bawah. Pada jalur inilah pemerintah kota memberi sinyal tegas: komunitas bukan pelengkap, melainkan mitra yang ikut menentukan arah kebijakan. Pertemuan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham dengan Yayasan Relawan Soelawesi Pejuang Amanah (RESOPA) menjadi contoh bagaimana percakapan di ruang rapat bisa diturunkan menjadi aksi di gang-gang permukiman. Dari pendidikan, pengelolaan sampah, sampai air bersih, agenda kolaborasi dipasang sebagai jembatan untuk bangun rasa saling percaya. Pertanyaannya kemudian: bagaimana “niat baik” bisa berubah menjadi gotong royong yang nyata, dan bagaimana kota menjaga agar solidaritas tidak berhenti di seremoni? Di bawah ini, berbagai sudut pandang dipetakan—dengan contoh lapangan, mekanisme kerja, hingga ukuran keberhasilan—agar dukungan pada komunitas menjadi strategi yang masuk akal dan tahan uji.
Makassar dukung kegiatan komunitas: arah kebijakan yang menyentuh kebutuhan warga
Ketika Pemkot Makassar menyatakan terbuka terhadap kolaborasi, yang dimaksud bukan sekadar membuka pintu audiensi. Dukungan itu berarti menempatkan komunitas sebagai “sensor sosial” yang menangkap masalah paling awal: anak putus sekolah, tumpukan sampah yang berulang, atau kran air yang tak mengalir saat musim kering. Dalam konteks ini, audiensi antara Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham dan RESOPA pada pertengahan 2025 dapat dibaca sebagai landasan kerja yang berlanjut hingga sekarang—sebuah model bahwa kebijakan kota sebaiknya lahir dari dialog, lalu diuji di lapangan.
Aliyah menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa dikerjakan pemerintah sendirian. Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi implikasinya besar: tiap program mesti punya ruang partisipasi. Bagi warga, ruang itu bisa berupa forum kelurahan, relawan lingkungan, atau kelas pendampingan orang tua di PAUD. Bagi komunitas, ruang itu berarti akses komunikasi yang lebih jelas—siapa penanggung jawab di dinas, jalur koordinasi, dan jadwal evaluasi.
Benang merah yang sering luput adalah soal “kesesuaian agenda.” Aliyah menyebut masukan RESOPA terkait pendidikan, lingkungan, dan air bersih sejalan dengan arah kebijakan kota melalui program MULIA. Keselarasan ini penting karena kerja komunitas sering melemah saat merasa bergerak sendiri. Ketika agenda komunitas nyambung dengan prioritas kota, bantuan menjadi lebih realistis: pelatihan kader, peminjaman fasilitas publik, hingga penyelarasan data penerima manfaat.
Agar terasa dekat, bayangkan kisah fiktif seorang koordinator RT bernama Rina di Tamalanrea. Ia mengurus tiga persoalan sekaligus: anak yang kesulitan membaca, sampah rumah tangga yang menumpuk di titik tertentu, dan sumur bor yang debitnya turun. Saat komunitas datang membawa relawan, pekerjaan Rina menjadi lebih ringan. Namun tanpa dukungan kebijakan—misalnya jadwal pengangkutan, akses pelaporan, dan dukungan program pendidikan—tenaga relawan mudah habis. Di sinilah “Makassar dukung” menjadi bermakna: bukan mengambil alih, melainkan menyambungkan simpul-simpul kerja agar warga tidak berjalan sendiri.
Langkah berikutnya adalah membangun kebiasaan evaluasi. Banyak kota tergoda merayakan jumlah kegiatan, tetapi lupa menghitung dampaknya. Dalam model dukungan yang matang, pertanyaan seperti “berapa anak terbantu?”, “berapa titik sampah liar berkurang?”, atau “berapa jam akses air membaik?” harus dijawab secara berkala. Dari sinilah dukungan pada komunitas berubah menjadi investasi sosial, bukan sekadar agenda tahunan. Insight akhirnya jelas: kegiatan yang kecil tetapi konsisten sering kali lebih kuat daripada program besar yang jarang menyentuh rumah-rumah warga.
Sinergi Pemkot dan RESOPA: kerjasama lintas sektor untuk bangun solidaritas warga
Kolaborasi yang efektif selalu dimulai dari struktur. Dalam audiensi, Ketua Umum RESOPA Syarip Borahim menyampaikan bahwa organisasinya memiliki jaringan aktif di setiap kelurahan melalui brigade relawan. Ini bukan detail administratif; ini adalah modal logistik sosial. Jaringan kelurahan memungkinkan gerak cepat: pendataan, distribusi informasi, dan respons saat ada masalah darurat seperti banjir lokal atau lonjakan penyakit musiman.
Di sisi pemerintah, kehadiran perangkat daerah memperkuat kesan bahwa pembahasan tidak berhenti di tingkat wacana. Dalam pertemuan itu, hadir Kepala Dinas Pendidikan Achi Soleman dan Kepala Kesbangpol Fathur Rahim. Artinya, percakapan menautkan dua kebutuhan: penguatan layanan dasar dan pengelolaan dinamika sosial-politik agar tetap kondusif. Kesbangpol, misalnya, bisa membantu memastikan relawan bekerja selaras dengan aturan, menjaga ketertiban, sekaligus memfasilitasi komunikasi antar-kelompok agar tidak terjadi gesekan.
Aliyah juga memberi dorongan strategis: RESOPA sebaiknya membangun komunikasi dengan DPRD agar dukungan politik untuk program-program inklusif semakin luas. Ini penting karena banyak inisiatif komunitas berhenti saat memasuki tahap pendanaan atau legalitas. Dengan jalur komunikasi yang rapi, gagasan dapat masuk ke pembahasan yang lebih formal—misalnya penguatan regulasi pengelolaan sampah berbasis sumber, atau skema dukungan air bersih untuk wilayah yang paling rentan.
Supaya solidaritas warga tidak jadi kata-kata kosong, kerja sama perlu menerjemahkan nilai gotong royong ke sistem operasional. Contoh sederhana: brigade relawan bisa menjadi “tim pemantik” yang melatih kader lingkungan di RW, lalu Pemkot memastikan armada dan jadwal pengangkutan berjalan disiplin. Dengan cara itu, warga tidak merasa disuruh bersih-bersih sendirian; mereka melihat rantai layanan yang utuh. Apakah ini terdengar teknis? Justru di situlah solidaritas diuji: pada kepastian proses, bukan pada pidato.
Untuk memperjelas bentuk kerjasama yang bisa dipakai, berikut contoh kerangka kerja lapangan yang sering efektif saat komunitas dan pemerintah berjalan seiring:
- Koordinasi kelurahan: penetapan satu kontak penghubung di kelurahan dan satu koordinator relawan agar laporan tidak tercecer.
- Pemetaan masalah: daftar titik prioritas (anak perlu pendampingan belajar, TPS liar, rumah tanpa akses air memadai) berbasis data sederhana.
- Rencana aksi 30–60 hari: target kecil namun jelas, misalnya menurunkan titik sampah liar di dua lorong, atau membuka kelas baca mingguan.
- Pelaporan terbuka: ringkasan progres ditempel di papan informasi RW atau disebar di grup warga agar partisipasi terjaga.
- Evaluasi dan perbaikan: rapat singkat bulanan yang fokus pada hambatan lapangan dan solusi praktis.
Model seperti ini juga memberi ruang bagi tokoh-tokoh komunitas lain—misalnya karang taruna, penggerak PKK, hingga kreator konten lokal—untuk ikut memperkuat narasi positif. Pada akhirnya, sinergi bukan soal siapa paling terlihat, melainkan seberapa cepat masalah warga berkurang. Insight penutupnya: ketika struktur kerja jelas, solidaritas tidak perlu dipaksa—ia tumbuh karena warga merasakan hasilnya.
Jika Anda ingin melihat contoh praktik kolaborasi komunitas di Makassar, video berikut bisa menjadi titik awal pencarian liputan dan dokumentasi lapangan:
Standar pendidikan PAUD–SMP: dari kebijakan ke pendampingan nyata di tingkat kelurahan
Pendidikan sering disebut prioritas, tetapi tantangannya selalu sama: bagaimana memastikan standar yang ditetapkan di tingkat kota benar-benar dirasakan di ruang kelas dan rumah. Dalam audiensi, Kepala Dinas Pendidikan Achi Soleman menyampaikan bahwa standar pendidikan dari PAUD hingga SMP mulai diterapkan dan sedang diperkuat. Kalimat “penguatan” di sini penting: ia mengakui bahwa perubahan pendidikan bukan tombol on/off, melainkan proses yang membutuhkan pembiasaan dan pendampingan.
Di banyak permukiman, persoalan pendidikan bukan hanya soal fasilitas sekolah. Ada anak yang hadir secara fisik, tetapi tertinggal kemampuan membaca. Ada orang tua yang ingin membantu, namun tidak tahu cara mendampingi. Ada pula guru yang sudah bekerja keras, tetapi kewalahan menghadapi variasi kemampuan siswa. Pada titik ini, kegiatan komunitas bisa menjadi “lapisan penyangga” yang melengkapi sekolah, bukan mengambil alih peran guru.
Contoh kasus fiktif: Arman, siswa kelas 4 SD di Rappocini, sering absen karena membantu orang tua. Ketika komunitas relawan hadir, mereka tidak langsung menuntut Arman berubah. Mereka memulai dari hal kecil: kelas belajar dua kali seminggu di balai warga, meminjam buku bacaan, dan membuat tantangan membaca 10 menit per hari. Pemkot kemudian mendukung melalui koordinasi dengan sekolah dan kelurahan, sehingga program tidak dianggap liar, melainkan bagian dari penguatan standar literasi. Di sinilah partisipasi menciptakan jalur pulang-pergi antara kebijakan dan realitas.
Penguatan standar PAUD–SMP juga bisa dibaca sebagai upaya menyamakan “garis start.” Makassar sebagai kota besar memiliki kesenjangan: ada sekolah yang sangat siap, ada juga yang masih berjuang dengan ketersediaan perangkat belajar. Ketika kota menyiapkan sistem dan standar, komunitas dapat membantu mengisi celah yang tidak selalu bisa dijangkau APBD secara cepat, misalnya:
- Pojok baca berbasis RT/RW dengan jadwal relawan yang bergilir.
- Kelas pendampingan orang tua untuk memahami tugas sekolah, gizi, dan kebiasaan belajar di rumah.
- Mentoring remaja untuk siswa SMP agar tidak putus sekolah, termasuk konseling sederhana dan pengenalan minat.
Namun dukungan pendidikan tidak boleh berhenti pada aktivitas. Ia harus punya ukuran dan alur. Karena itu, pola kerja idealnya disepakati sejak awal: sekolah memberikan daftar kebutuhan (misalnya literasi dasar), relawan menyesuaikan modul sederhana, kelurahan membantu lokasi dan komunikasi, sementara dinas memfasilitasi standar agar materi tidak bertentangan dengan kurikulum. Bila semua bergerak, bangun solidaritas warga menjadi nyata: keluarga merasa ditemani, guru merasa diperkuat, dan anak merasakan lingkungan yang peduli.
Insight akhir dari bagian ini: standar pendidikan yang kuat akan lebih cepat hidup ketika ia bertemu relawan yang disiplin, bukan sekadar antusias—karena masa depan anak membutuhkan proses yang konsisten.
Pengelolaan sampah dan air bersih: gotong royong yang butuh sistem, bukan slogan
Dua isu yang paling cepat memicu keluhan warga adalah sampah dan air bersih. Keduanya hadir setiap hari, dan dampaknya langsung: lingkungan kotor, bau, saluran tersumbat, hingga penyakit. Karena itu, saat RESOPA menyampaikan komitmen untuk bersinergi dalam pengelolaan sampah dan penyediaan air bersih, arah kolaborasinya bersifat praktis—bukan retoris.
Pengelolaan sampah yang berhasil biasanya dimulai dari rumah. Tantangannya adalah kebiasaan. Banyak orang bersedia memilah, tetapi berhenti ketika tidak ada kepastian pengangkutan atau tidak ada insentif sosial. Di sinilah peran komunitas dan Pemkot saling mengunci. Relawan bisa melakukan edukasi door-to-door, mendemonstrasikan pemilahan organik-anorganik, dan membangun “rasa malu positif” jika ada yang membuang sembarangan. Pemerintah memastikan jadwal pengangkutan dan titik penampungan berjalan tertib, sehingga upaya warga tidak sia-sia.
Untuk air bersih, pendekatannya berbeda. Ia menyangkut infrastruktur, kualitas, dan ketahanan pasokan. Namun komunitas tetap punya peran penting: memetakan rumah yang paling rentan, mendata jam aliran air, melaporkan kebocoran, serta membantu komunikasi saat ada perbaikan. Di beberapa wilayah, “air tidak ada” sering sebenarnya berarti “air ada, tetapi jamnya tidak pasti.” Ketika jam layanan dipetakan rapi, solusi lebih mudah ditentukan—apakah perlu penampungan komunal, perbaikan jaringan, atau dukungan distribusi sementara.
Agar kolaborasi ini terukur, berikut tabel contoh indikator yang bisa dipakai bersama oleh Pemkot, kelurahan, dan komunitas. Indikator ini bukan angka baku, melainkan kerangka yang membantu semua pihak berbicara dengan bahasa yang sama.
Bidang |
Contoh Indikator |
Peran Komunitas |
Dukungan Pemkot |
|---|---|---|---|
Sampah |
Penurunan titik pembuangan liar per RW |
Edukasi pemilahan, patroli lingkungan, pelaporan cepat |
Jadwal angkut konsisten, penertiban, fasilitas pengelolaan |
Sampah |
Jumlah rumah yang memilah sampah minimal 2 kategori |
Pelatihan, contoh praktik, pendampingan kader |
Penyediaan sarana, integrasi dengan program kebersihan |
Air bersih |
Stabilitas jam layanan air di wilayah rentan |
Pemetaan jam aliran, laporan kebocoran, mediasi warga |
Perbaikan jaringan, penjadwalan layanan, respons pengaduan |
Air bersih |
Jumlah aduan kualitas air yang terselesaikan |
Pengumpulan bukti lapangan, komunikasi ke kelurahan/dinas |
Uji kualitas, tindak lanjut teknis, publikasi status perbaikan |
Kerja-kerja ini sangat cocok dengan karakter Makassar yang terbiasa dengan budaya saling bantu. Namun gotong royong modern membutuhkan “aturan main” agar tidak bergantung pada figur tertentu. Itulah mengapa struktur brigade relawan di tingkat kelurahan—seperti yang disampaikan RESOPA—bisa menjadi keunggulan: ada orang yang bertugas, ada jadwal, ada koordinasi. Ketika sistem bertemu budaya, hasilnya biasanya lebih tahan lama.
Insight penutupnya: sampah dan air bersih adalah ujian kedewasaan kota; keberhasilan bukan ditentukan oleh satu aksi besar, melainkan disiplin kolektif yang dijaga bersama.
Ruang kolaborasi hingga DPRD: menjaga partisipasi dan solidaritas warga agar berkelanjutan
Dukungan pada komunitas sering memuncak saat kegiatan ramai, lalu turun ketika perhatian berpindah. Karena itu, saran Aliyah agar RESOPA membangun komunikasi strategis dengan DPRD patut dibaca sebagai upaya mengunci keberlanjutan. DPRD punya peran penting dalam dukungan kebijakan, pengawasan program, dan penajaman anggaran. Ketika komunitas ikut berdialog dengan wakil rakyat, yang dibawa bukan tuntutan emosional, melainkan data lapangan: titik masalah, kebutuhan, dan dampak kegiatan.
Di level warga, keberlanjutan juga ditentukan oleh rasa kepemilikan. Banyak program sosial gagal karena warga merasa hanya “objek bantuan.” Sebaliknya, program yang mengajak warga menjadi aktor—misalnya mengelola bank sampah, merawat instalasi air sederhana, atau menjadi mentor belajar—cenderung bertahan. Inilah alasan mengapa Pemkot perlu terus membuka ruang: bukan hanya mendengar, tetapi juga memberi kejelasan tindak lanjut. Ketika respons pemerintah jelas, warga lebih percaya untuk terus terlibat.
Agar kerjasama tidak bergantung pada satu pertemuan, ada beberapa praktik yang lazim digunakan kota-kota yang berhasil mengelola kolaborasi publik:
- Agenda bersama per kuartal: daftar prioritas yang disepakati, misalnya fokus literasi, kebersihan, atau akses air di wilayah tertentu.
- Dokumen komitmen sederhana: bukan kontrak kaku, tetapi kesepakatan peran—siapa melakukan apa, kapan, dan bagaimana evaluasinya.
- Pelibatan tokoh lokal: imam masjid, pengurus gereja, pemuda, dan pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pesan.
- Transparansi progres: papan informasi atau kanal digital kelurahan yang menampilkan pekerjaan yang sudah dan belum selesai.
Makassar juga punya momentum kebudayaan yang bisa dimanfaatkan untuk menguatkan jejaring sosial. Perayaan kota, kegiatan kampung, hingga kerja kreator konten lokal dapat menjadi kanal edukasi—bukan hanya hiburan. Ketika pesan lingkungan dan pendidikan dibungkus narasi yang dekat, warga lebih mudah ikut. Apalagi generasi muda sering lebih responsif terhadap kampanye yang “membumi”: video pendek tentang memilah sampah, dokumentasi kelas baca, atau tantangan kebersihan antar-RT.
Di titik ini, penting menjaga keseimbangan: kolaborasi tidak boleh berubah menjadi panggung pencitraan. Ukurannya tetap dampak pada warga. Jika sebuah kelurahan berhasil menurunkan titik sampah liar, atau anak-anak lebih rutin belajar, itulah kemenangan bersama. Pertanyaan retoris yang layak diajukan setiap akhir rapat kolaborasi adalah: “Apa yang berubah di lorong-lorong setelah kegiatan ini?”
Untuk menggali contoh lain tentang penguatan kesetiakawanan sosial, Anda bisa menelusuri liputan peringatan HKSN dan gerakan sosial di Makassar melalui pencarian video berikut:
Jika semua pihak konsisten—Pemkot menjaga akses dan kejelasan program, komunitas menjaga disiplin kerja, DPRD menguatkan dukungan kebijakan—maka Makassar dukung kegiatan komunitas bukan hanya headline, melainkan cara kota bangun solidaritas warga yang bisa dirasakan hingga tingkat rumah tangga.