makassar menyoroti isu gaya hidup konsumtif di kota besar, mengajak masyarakat untuk sadar dalam mengelola pengeluaran sehari-hari.

Makassar angkat isu gaya hidup konsumtif di kota besar

  • Makassar memperlihatkan paradoks: hidup terasa “biasa saja”, tetapi rutinitas harian menyumbang jejak emisi dan pengeluaran yang nyata.
  • Gaya hidup serba cepat—transportasi instan, pesan-antar makanan, AC menyala—membentuk pola perilaku konsumtif di kota besar.
  • Tren gaya hidup di media sosial mendorong pembelian impulsif, sementara ekonomi digital membuat transaksi terasa “ringan” padahal akumulasinya berat.
  • Konsumsi berlebihan tak hanya berdampak pada dompet, tetapi juga pada lingkungan: energi, kemasan sekali pakai, hingga sampah yang memicu metana.
  • Solusi realistis dimulai dari kebiasaan kecil: mobilitas lebih hijau, hemat energi, kurangi plastik, pola makan berkelanjutan, dan pengelolaan air.

Makassar belakangan makin lantang membicarakan wajah lain kehidupan urban: bukan semata gedung tinggi, kafe baru, atau aplikasi yang memudahkan segalanya, melainkan kebiasaan belanja dan konsumsi yang diam-diam membentuk karakter masyarakat perkotaan. Di banyak sudut kota besar, kenyamanan kerap datang dalam bentuk tombol “pesan sekarang”—seolah waktu, tenaga, dan bahkan rasa bersalah dapat dipangkas menjadi notifikasi singkat di layar. Seorang mahasiswi yang juga bekerja paruh waktu di kawasan Nipa-Nipa menggambarkan hari yang mengalir tanpa gegas: bangun tak selalu pagi, berangkat dengan motor atau memesan transportasi online saat lelah, dan makan yang sering kali tiba dalam bungkusan plastik dari aplikasi. Ia merasa hidupnya “cukup-cukup saja”, tetapi pertanyaan tentang tanggung jawab lingkungan membuatnya berhenti sejenak, seolah ada jarak antara rutinitas pribadi dan dampak kolektif yang lebih besar.

Di situlah isu konsumtif menjadi relevan: bukan karena semua orang hidup mewah, melainkan karena pola “serba praktis” menormalisasi konsumsi berlebihan—energi, barang, layanan, dan kemasan. Akademisi di Makassar mengingatkan bahwa jejak dari pilihan harian bisa membentuk porsi besar emisi perkotaan, sementara antropolog melihatnya sebagai respons terhadap tekanan urbanisasi: padatnya ruang, cepatnya ritme, dan tuntutan produktivitas. Artikel ini menelusuri bagaimana ekonomi konsumsi terbentuk di Makassar, bagaimana media sosial mempercepatnya, dan apa saja langkah kecil yang realistis agar warga tetap nyaman tanpa terus menambah beban kota.

Makassar dan rutinitas urban: ketika “praktis” mengubah perilaku konsumtif di kota besar

Di Makassar, rutinitas urban sering kali lahir dari kompromi yang tampak masuk akal. Seorang tokoh pengikat cerita—sebut saja Khaerunnisa—tinggal di kawasan yang ramai namun tidak glamor, dekat simpul mobilitas dan pusat aktivitas. Ia kuliah, bekerja, dan sesekali bersantai. Saat tenaga menipis, opsi tercepat adalah memesan layanan antar-jemput atau menumpang teman; saat tidak sempat memasak, jari bergerak otomatis membuka aplikasi pesan-antar makanan. Secara nominal, tiap transaksi terlihat kecil. Namun pola harian yang berulang membuatnya menjadi struktur: perilaku konsumtif yang bukan selalu soal barang mahal, melainkan soal frekuensi dan kemudahan.

Dalam konteks urbanisasi, perubahan ini dapat dibaca sebagai adaptasi. Kota makin padat, jarak terasa lebih jauh karena macet, dan waktu menjadi mata uang paling langka. Ketika “hemat waktu” menjadi prinsip utama, warga mudah menerima biaya tambahan: ongkos layanan, biaya kemasan, biaya kenyamanan. Lalu, kebiasaan itu merembes ke aspek lain—membeli kopi kekinian ketimbang menyeduh, mengganti barang sebelum rusak karena promo, atau menggunakan kendaraan untuk jarak pendek karena panas dan lelah. Apakah ini salah? Pertanyaannya lebih tajam: apakah kebiasaan tersebut disadari sebagai pola, atau dianggap sebagai “normal baru” yang tidak perlu ditinjau ulang?

Makassar sebagai kota besar juga mengalami dinamika simbolik. Ada gengsi, ada kebutuhan “terlihat” relevan, dan ada ketakutan tertinggal tren. Di sinilah tren gaya hidup memegang peran: kafe yang “wajib dicoba”, sepatu yang “lagi naik”, atau gawai yang dianggap penanda produktivitas. Bukan berarti semua orang ikut arus, tetapi arusnya cukup kuat untuk mengubah standar kewajaran. Bahkan mereka yang merasa hidup sederhana pun bisa terjebak pada akumulasi kecil: biaya langganan digital, ongkir, top-up e-wallet, dan belanja kilat tengah malam.

Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Kita bisa belajar dari pembahasan dampak budaya global di daerah wisata yang menunjukkan bagaimana paparan tren lintas negara memengaruhi selera dan pola konsumsi. Dalam konteks yang lebih luas, perspektif tersebut membantu membaca Makassar: ketika globalisasi gaya hidup masuk lewat layar, kota-kota di Indonesia menjadi panggung peniruan dan penyesuaian. Rujukan mengenai dampak budaya global pada pola hidup memberi gambaran bahwa konsumerisme sering tumbuh bersama kebutuhan identitas.

Untuk memperjelas, berikut contoh “praktis” yang sering luput dihitung sebagai konsumsi berlebihan karena terasa normal:

  • Menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak di bawah 2 km karena cuaca panas atau takut terlambat.
  • Memesan makanan online hampir setiap hari, termasuk tambahan minuman kemasan dan alat makan sekali pakai.
  • Membiarkan AC dan perangkat digital menyala lama, karena rumah menjadi ruang kerja dan hiburan.
  • Membeli barang “diskon” meski tidak dibutuhkan, karena takut kesempatan hilang.

Di akhir hari, kebiasaan ini bukan sekadar pilihan individu, melainkan cerminan sistem kota: transportasi publik yang belum selalu menjadi opsi utama, ruang teduh pejalan kaki yang terbatas, dan ekonomi digital yang membuat “beli” terasa lebih cepat daripada “pikir”. Pemahaman ini menjadi jembatan untuk membahas jejak yang lebih tersembunyi: bukan hanya rupiah yang keluar, tetapi emisi yang tertinggal.

makassar membahas tren gaya hidup konsumtif di kota besar, mengungkap dampak sosial dan ekonomi yang muncul dari pola konsumsi masyarakat modern.

Jejak karbon dari gaya hidup konsumtif: emisi, sampah, dan biaya yang tidak terlihat

Ketika seorang akademisi di Makassar menyebut bahwa porsi besar emisi perkotaan dapat ditelusuri ke gaya hidup warganya—sekitar 30 hingga 50 persen—pesannya bukan untuk menyalahkan individu, melainkan mengungkap mata rantai. Emisi kota tidak hanya datang dari cerobong industri besar; ia juga lahir dari ribuan keputusan kecil yang dilakukan berulang oleh jutaan orang: menyalakan pendingin ruangan, berkendara jarak pendek, membiarkan lampu menyala, atau menambah satu kantong plastik karena “lebih aman”. Di Makassar, kombinasi suhu tropis, ritme kerja yang panjang, dan mobilitas yang padat membuat kenyamanan menjadi kebutuhan yang mudah berubah menjadi kebiasaan permanen.

Ambil contoh pesan-antar makanan. Satu kali transaksi mungkin menghasilkan beberapa lapis kemasan: kantong plastik luar, wadah makanan, cup minuman, sedotan, dan tisu. Jika itu terjadi hampir setiap hari, maka sampah bertambah cepat. Masalahnya tidak berhenti di tempat sampah rumah. Sampah yang tidak terkelola baik dapat menghasilkan gas metana—gas rumah kaca yang kuat—terutama dari limbah organik yang membusuk tanpa pengolahan memadai. Ini menjelaskan mengapa isu konsumsi berlebihan tidak bisa dipisahkan dari kebijakan pengelolaan sampah dan perilaku memilah.

Jejak karbon juga terkait dengan dunia digital. Streaming video, rapat daring, dan gim online membuat pusat data dan jaringan bekerja terus-menerus. Dari sisi pengguna, dampaknya tampak sebagai tagihan listrik yang naik dan perangkat yang cepat aus. Dari sisi kota, ia menambah permintaan energi. Di sinilah paradoks muncul: aktivitas yang “tidak terlihat” (hanya menatap layar) ternyata punya konsekuensi material. Pertanyaan retoris yang sering memantik refleksi adalah: jika kita menganggap kemacetan sebagai masalah nyata karena terlihat, mengapa kita mengabaikan emisi dari kebiasaan yang tak tampak?

Untuk membantu pembaca menilai keterkaitan aktivitas harian dengan dampaknya, tabel berikut merangkum hubungan sederhana antara kebiasaan urban dan konsekuensinya. Ini bukan perhitungan ilmiah rinci, tetapi peta logika yang memudahkan evaluasi.

Kebiasaan di masyarakat perkotaan
Dampak pada lingkungan
Dampak pada ekonomi rumah tangga
Alternatif yang lebih selaras
AC menyala lama pada ruangan kecil
Permintaan listrik meningkat, emisi dari pembangkit bertambah
Tagihan listrik naik, perangkat cepat aus
Atur suhu moderat, gunakan timer, perbaiki ventilasi
Transportasi online untuk jarak dekat
Emisi kendaraan naik, kemacetan memburuk
Pengeluaran harian bocor tanpa terasa
Jalan kaki, sepeda, berbagi kendaraan, rencanakan rute
Pesan-antar makanan hampir setiap hari
Sampah kemasan menumpuk, residu plastik meningkat
Biaya layanan dan ongkir rutin
Masak sederhana, bawa wadah, pilih penjual minim kemasan
Belanja impulsif saat promo
Produksi dan pengiriman barang memperbesar emisi
Ruang penyimpanan penuh, cicilan/utang berpotensi muncul
Daftar kebutuhan, tunda 24 jam sebelum checkout

Di Makassar, kemacetan di ruas-ruas tertentu pada jam sibuk juga memperjelas biaya “tak terlihat”. Waktu habis, bahan bakar terbakar, emisi terlepas, dan stres meningkat. Ini memperkuat alasan mengapa perubahan gaya hidup bukan sekadar isu moral, melainkan strategi kesehatan kota. Maka, ketika orang seperti Azrar—anggota komunitas lari—memilih berlari sebagai moda aktivitas dan simbol hidup hemat, ia sedang menawarkan narasi tandingan: bahwa kenyamanan tidak selalu identik dengan mesin dan tombol instan. Pemahaman ini mengantar kita ke lapisan berikutnya: bagaimana budaya dan tekanan sosial membentuk pilihan konsumsi warga.

Untuk melihat bagaimana percakapan publik tentang iklim dan gaya hidup berkembang, banyak orang juga mengikuti liputan gaya hidup lokal, misalnya melalui kanal berita daerah seperti ketahanan pangan dan kebiasaan konsumsi yang memperlihatkan keterkaitan pangan, belanja, dan keberlanjutan.

Budaya, media sosial, dan FOMO: tren gaya hidup yang mendorong ekonomi konsumsi di Makassar

Jika jejak karbon menjelaskan dampak fisik dari pilihan harian, maka budaya menjelaskan mengapa pilihan itu terasa wajar. Dalam pembacaan antropologis, gaya hidup urban tidak muncul dari kehampaan; ia lahir dari kebutuhan untuk bertahan dalam ritme kota: harus cepat, harus efisien, harus tetap terlihat “berfungsi”. Di Makassar, ini tampak dalam kebiasaan memadatkan jadwal, memecah aktivitas lintas titik (kampus–kantor–tempat nongkrong), lalu mencari solusi instan agar energi tidak habis di jalan. Praktis menjadi nilai, dan nilai itu kemudian diperdagangkan oleh platform: diskon, gratis ongkir, paylater, bundling langganan.

Peran media sosial mempercepat semuanya. Feed harian memproduksi standar baru tentang “hidup yang pantas”: tempat makan estetik, outfit yang “rapi tapi santai”, gadget yang “mendukung produktivitas”. Ketika seseorang melihat puluhan unggahan dalam sehari, ia tidak hanya menerima informasi, tetapi juga perbandingan sosial. Rasa takut ketinggalan—FOMO—membuat belanja terasa seperti cara mengejar ketertinggalan. Di sinilah perilaku konsumtif berpindah dari kebutuhan menjadi identitas. Orang tidak sekadar membeli sepatu; ia membeli rasa diterima. Tidak hanya memesan kopi; ia membeli momen untuk diposting.

Yang sering luput adalah bagaimana desain platform menghapus friksi. Dulu, belanja perlu waktu: pergi, memilih, membawa pulang. Sekarang, cukup tiga klik. Penghapusan friksi ini menciptakan ekonomi konsumsi yang mengandalkan impuls. Bahkan orang yang berkomitmen hemat pun bisa tergelincir karena transaksi mikro yang tidak terasa: top-up kecil tapi sering, add-on kecil tapi rutin, dan langganan yang jarang dibatalkan. Dalam suasana ini, literasi finansial menjadi isu gaya hidup, bukan sekadar pelajaran ekonomi.

Diskusi tentang literasi dan perilaku belanja digital juga muncul di kota lain, dan relevan untuk dibaca sebagai cermin. Misalnya, pembahasan literasi keuangan digital di Medan memperlihatkan bahwa pemahaman instrumen pembayaran memengaruhi cara orang mengontrol pengeluaran. Makassar menghadapi tantangan serupa: ketika pembayaran makin mudah, kontrol harus makin sadar. Tanpa itu, paylater dan cicilan menjadi jembatan cepat menuju pola belanja yang tidak seimbang.

Konteks global mempertegas tekanan. Membandingkan biaya hidup kota-kota dunia saja sudah cukup untuk menormalkan ide “hidup pasti mahal”, sehingga belanja dianggap sebagai pelarian yang wajar. Tulisan tentang biaya hidup London, misalnya, sering dibaca sebagai gambaran ekstrem; namun dampak psikologisnya bisa merembes: jika hidup modern mahal, maka “sekali-sekali memanjakan diri” terasa sah. Padahal, yang terjadi sering bukan sekali-sekali, melainkan berulang dengan nama berbeda: self-reward, healing, treat yourself.

Di Makassar, resistensi terhadap arus ini mulai tampak lewat komunitas. Dopamine Running, misalnya, mempopulerkan aktivitas yang sederhana—berlari—sebagai cara menikmati kota tanpa banyak belanja. Aktivitas fisik diposisikan sebagai gaya hidup: bertemu teman, mengukur progres, mengisi akhir pekan. Menariknya, pola seperti ini menggeser kebutuhan “nongkrong berbayar” menjadi “nongkrong berbasis aktivitas”. Ini bukan anti-kesenangan; ini bentuk kesenangan yang tidak selalu menuntut transaksi. Insight pentingnya: budaya konsumsi bisa dilawan bukan dengan larangan, melainkan dengan menyediakan alternatif sosial yang sama menariknya.

Dari paylater sampai cicilan: mekanisme keuangan yang membuat konsumsi berlebihan terasa ringan

Di banyak keluarga urban, problem terbesar bukan ketiadaan pendapatan, melainkan kebocoran kecil yang konsisten. Makassar mengalami hal yang sama: pengeluaran transportasi instan, biaya layanan antar, langganan digital, kopi harian, serta belanja “murah” yang menumpuk. Di atas semua itu, hadir instrumen yang membuat beban terasa lebih ringan di depan namun lebih berat di belakang: cicilan, paylater, dan skema “beli sekarang, bayar nanti”. Mekanisme ini mengubah psikologi belanja. Harga yang tadinya terasa mahal berubah menjadi “cuma segini per bulan”. Akibatnya, konsumsi berlebihan tidak lagi tampak sebagai pemborosan, melainkan sebagai strategi pengaturan arus kas—meski sering tanpa perhitungan risiko.

Masalahnya, kota besar menawarkan terlalu banyak pemicu. Saat promosi muncul, platform pembayaran menyediakan tombol cicilan; saat FOMO naik, paylater menawarkan solusi; saat orang lelah, layanan instan mengurangi friksi. Jika tidak diimbangi kebiasaan mencatat dan mengevaluasi, pengeluaran menjadi kabur. Banyak orang baru sadar ketika limit menipis atau tagihan menumpuk. Pada titik itu, stres finansial sering berujung pada keputusan yang makin konsumtif: mencari pelarian dalam belanja kecil lain, karena terasa “menghibur”. Siklus ini menjelaskan mengapa isu konsumtif bukan sekadar tentang etika belanja, tetapi tentang kesehatan mental dan stabilitas rumah tangga.

Untuk menahan laju, literasi finansial praktis dibutuhkan, bukan teori. Misalnya, membuat aturan sederhana: maksimal 10–15% pendapatan untuk “gaya hidup fleksibel”, memisahkan rekening kebutuhan dan keinginan, serta menetapkan hari tanpa belanja setiap minggu. Yang paling efektif biasanya adalah menambah friksi secara sengaja: menghapus kartu tersimpan, menonaktifkan notifikasi promo, atau menetapkan “keranjang tunggu 24 jam”. Kuncinya bukan anti-teknologi, melainkan mengendalikan teknologi agar tidak mengendalikan kita.

Isu cicilan tanpa kartu juga makin populer, dan itu perlu dibaca dengan kacamata kehati-hatian. Di satu sisi, ia membantu akses pembelian bagi yang tidak punya kartu kredit. Di sisi lain, ia memperbesar risiko pembelian impulsif. Pembahasan cicilan tanpa kartu di Bandung relevan sebagai pelajaran: kemudahan harus diimbangi disiplin, terutama bagi mahasiswa dan pekerja muda yang pendapatannya belum stabil. Makassar, dengan populasi muda yang besar dan ekonomi layanan yang tumbuh, berada dalam posisi rawan jika edukasi finansial tidak mengiringi ekspansi produk pembayaran.

Di level rumah tangga, strategi “gaya hidup hemat” sering gagal karena terlalu ekstrem. Orang menetapkan larangan total, lalu kambuh ketika lelah. Yang lebih realistis adalah pendekatan desain kebiasaan. Contoh konkret: Khaerunnisa bisa menetapkan tiga hari masak sederhana dalam sepekan, dua hari boleh pesan-antar, dan dua hari makan di warung dekat rumah tanpa kemasan berlebih. Untuk mobilitas, ia bisa menetapkan rute jalan kaki singkat untuk urusan dekat, dan menyisihkan transportasi online hanya untuk kondisi tertentu. Dengan begitu, ia tetap mendapat kenyamanan, tetapi tidak menyerahkan seluruh ritme hidup kepada tombol instan.

Menariknya, pengendalian konsumsi juga berkaitan dengan isu kolektif seperti pangan. Ketika harga bahan pokok berfluktuasi, keluarga yang terbiasa belanja impulsif lebih rentan. Karena itu, melihat praktik ketahanan pangan di wilayah lain dapat menginspirasi pendekatan urban: stok bumbu dasar, perencanaan menu, dan belanja mingguan terukur. Insight akhirnya: mengelola keuangan adalah bagian dari mengelola jejak lingkungan, karena setiap keputusan belanja memicu rantai produksi dan distribusi.

Langkah kecil yang bisa ditiru masyarakat perkotaan Makassar: mobilitas, energi, plastik, makan, dan air

Perubahan yang bertahan jarang lahir dari target besar yang mengintimidasi. Di Makassar, para peneliti dan pegiat lingkungan cenderung menekankan langkah kecil yang dapat diulang, karena akumulasi adalah kunci. Jika gaya hidup menyumbang porsi signifikan pada emisi perkotaan, maka perubahan gaya hidup juga punya daya ungkit yang besar—terutama ketika dilakukan serempak oleh masyarakat perkotaan. Azrar dari komunitas lari menyebut efek penularan: ketika orang melihat temannya memilih cara yang lebih hemat dan ramah lingkungan, keputusan itu lebih mudah ditiru. Kota bekerja lewat contoh, bukan hanya himbauan.

Prinsipnya sederhana: kurangi pemborosan tanpa menghilangkan kenyamanan. Lima area berikut sering disebut sebagai titik awal yang realistis, dan masing-masing bisa dipraktikkan dengan cara yang “membumi” di Makassar.

  1. Transportasi lebih ramah: gabungkan perjalanan, berbagi kendaraan, pilih jalan kaki untuk urusan dekat, dan jadikan aktivitas fisik (lari/sepeda) sebagai bagian dari rutinitas, bukan proyek sesaat.
  2. Hemat energi: gunakan timer AC, bersihkan filter agar efisien, matikan perangkat saat tidak dipakai, dan perhatikan kebocoran listrik dari charger serta perangkat standby.
  3. Kurangi plastik: bawa botol minum, pilih pesanan tanpa alat makan sekali pakai, gunakan wadah sendiri saat memungkinkan, dan biasakan memilah sampah di rumah.
  4. Pola makan berkelanjutan: utamakan menu lokal-musiman, kurangi sisa makanan dengan porsi tepat, dan perbanyak masak sederhana yang tidak butuh banyak kemasan.
  5. Hemat air: perbaiki keran bocor, gunakan ulang air bilasan tertentu untuk menyiram, dan biasakan mandi efisien tanpa mengorbankan kebersihan.

Kuncinya adalah menjadikan tindakan tersebut sebagai bagian dari identitas yang positif, bukan beban. Misalnya, membawa botol minum bisa diposisikan sebagai “gaya” yang fungsional. Memilah sampah bisa dibuat mudah dengan dua wadah: organik dan anorganik. Memasak tidak harus rumit; beberapa menu Makassar yang sederhana bisa menjadi alternatif pesan-antar—misalnya tumis sayur cepat, telur, atau olahan ikan yang minim proses. Perubahan seperti ini terasa kecil, tetapi dampaknya besar jika dilakukan konsisten.

Selain itu, penting mengakui realitas kota: tidak semua orang punya akses trotoar nyaman atau rute aman bersepeda. Karena itu, langkah individu perlu bertemu dorongan komunitas dan kebijakan. Komunitas pelari, kelompok urban farming, hingga gerakan membawa wadah sendiri dapat menjadi ruang belajar yang tidak menggurui. Inspirasi global juga relevan: kisah petani kecil yang memulihkan lahan kering lewat agroforestry dan warga kota yang menanam cabai di atap rumah menunjukkan bahwa ketahanan bisa dibangun dari ruang terbatas. Di Makassar, bentuknya bisa berupa kebun kecil di teras, kompos skala rumah, atau tanam daun bawang di pot—praktik sederhana yang mengurangi belanja berulang dan memotong sampah organik.

Pada akhirnya, isu konsumtif di kota besar bukan hanya soal mengurangi belanja, tetapi mengembalikan kendali: mengatur ritme, menolak impuls, dan memilih kenyamanan yang tidak memindahkan biaya ke masa depan—baik biaya finansial maupun ekologis. Itulah insight yang paling penting: kota yang nyaman bukan kota yang paling banyak transaksinya, melainkan kota yang warganya mampu hidup cukup tanpa mengorbankan hari esok.

makassar membahas isu gaya hidup konsumtif di kota besar, mengeksplorasi dampak sosial dan ekonomi serta solusi untuk menyeimbangkan konsumsi dan keberlanjutan.
Berita terbaru
Berita terbaru