Di Jakarta, perubahan cara orang berbelanja terasa semakin nyata: dari kios di gang sempit hingga gerai di pusat perbelanjaan, percakapan tentang “keranjang” kini sering berarti keranjang digital. Ketika pertumbuhan ekonomi nasional melambat dan persaingan makin ketat, banyak pelaku UMKM memilih beralih ke penjualan online bukan untuk sekadar ikut tren, melainkan untuk bertahan. Data ekonomi terbaru menggambarkan konteks yang menekan: pada triwulan I-2025, pertumbuhan PDB Indonesia tercatat 4,87% (yoy), terendah sejak fase pascapandemi 2022, sementara target pertumbuhan dalam asumsi APBN 2025 berada di 5,2%. Di saat yang sama, pengangguran terbuka per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang. Dalam lanskap seperti ini, usaha kecil di Jakarta menghadapi dua pekerjaan sekaligus: menjaga arus kas harian dan menemukan cara baru menjangkau pelanggan yang makin digital.
Namun kisahnya tidak melulu tentang “pindah ke marketplace”. Ada ekosistem yang ikut bergerak: program pembiayaan, aplikasi pemerintah yang mengintegrasikan layanan lintas kementerian, hingga inovasi platform e-commerce seperti fitur live shopping dan pembayaran QR. Di lapangan, perubahan ini terasa sangat praktis: pedagang kue rumahan di Tebet kini merekam video singkat untuk promosi, penjual fesyen di Tanah Abang mengandalkan siaran langsung untuk melayani pembeli luar kota, dan perajin aksesori di Rawamangun mulai mengatur stok lewat sistem yang lebih rapi. Jakarta menjadi semacam laboratorium, tempat digitalisasi menuntut ketangkasan sekaligus membuka peluang. Pertanyaannya bukan lagi “perlu online atau tidak”, melainkan “bagaimana masuk ke pasar daring dengan cara yang aman, efisien, dan tahan guncangan?”.
- Tekanan ekonomi dan perubahan perilaku belanja mendorong UMKM Jakarta mempercepat penjualan online.
- UMKM menyumbang 61,07% PDB (2024) dan menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja; penguatan daya saing menjadi agenda mendesak.
- Hingga Juli 2024, sekitar 25,5 juta UMKM sudah terhubung digital (sekitar 39,7%); ruang percepatan masih sangat besar.
- Live shopping dan konten video makin dominan; beberapa survei menunjukkan fitur live menjadi mesin transaksi bagi brand lokal.
- Integrasi layanan pemerintah seperti SAPA UMKM dan dukungan swasta (pelatihan, pembayaran QR, logistik) membentuk ekosistem baru.
- Tantangan utama: literasi digital, keamanan siber, biaya logistik, serta ketimpangan akses dan infrastruktur.
UMKM Jakarta beralih ke penjualan online: respons terhadap ekonomi melambat dan pasar yang berubah
Di banyak sudut Jakarta, pelaku UMKM merasakan perlambatan ekonomi bukan sebagai angka statistik, melainkan sebagai berkurangnya pesanan dan pelanggan yang lebih sensitif pada harga. Ketika pertumbuhan PDB triwulan I-2025 berada di 4,87% (yoy), dampaknya di tingkat mikro sering muncul dalam bentuk stok menumpuk atau biaya operasional yang terasa “lebih berat” dari biasanya. Dalam situasi seperti ini, penjualan online menjadi strategi untuk memperpanjang napas: membuka akses pembeli lintas wilayah, mempercepat perputaran barang, dan menekan biaya sewa lokasi fisik.
Contoh yang sering ditemui adalah “Rani”, tokoh ilustratif pemilik usaha sambal rumahan di wilayah Kramat Jati. Dulu, ia mengandalkan titip jual di warung dan pesanan tetangga. Ketika harga bahan baku naik dan pesanan menurun, Rani memutuskan beralih ke pasar daring. Awalnya ia hanya memotret produk dan mengunggahnya ke media sosial, tetapi responsnya terbatas. Titik balik terjadi saat ia memadukan tiga hal: konten video pendek, promosi berbasis lokasi (menyasar pengguna Jakarta), dan sistem pembayaran digital yang memudahkan pelanggan.
Jakarta juga punya karakter unik: kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, dan budaya “serba cepat” membuat konsumen menuntut layanan yang instan. Karena itu, UMKM yang masuk ke kanal digital di ibu kota sering harus menyesuaikan diri dengan standar layanan baru: balas chat cepat, pilihan pengiriman fleksibel, serta tampilan toko yang meyakinkan. Banyak pelaku bisnis kecil kemudian belajar bahwa “online” bukan hanya memindahkan etalase ke layar, tetapi juga memperbaiki proses di belakang layar, seperti pencatatan stok dan pengemasan.
Perubahan perilaku belanja ini terekam dalam berbagai pembahasan tren belanja aplikasi di kota besar. Untuk memahami konteks konsumen Jakarta yang makin mengandalkan aplikasi, pelaku UMKM sering merujuk liputan tentang tren belanja lewat aplikasi di Jakarta sebagai gambaran bagaimana kebiasaan belanja bergeser ke ponsel. Sinyalnya sederhana: pelanggan tidak selalu bertanya “tokonya di mana”, melainkan “bisa dikirim hari ini?”.
Dari sisi struktur ekonomi, peran UMKM tidak bisa dianggap kecil. Kontribusinya pada 2024 mencapai 61,07% dari PDB atau sekitar Rp 8.573,89 triliun, dan menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja (sekitar 97% angkatan kerja). Angka sebesar itu membuat akselerasi digitalisasi bukan sekadar isu teknologi, tetapi agenda ketahanan ekonomi. Ketika pengangguran terbuka per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang, memperkuat UMKM berarti juga memperkuat kapasitas penciptaan kerja yang nyata, terutama di sektor jasa, kuliner, fesyen, dan kerajinan yang banyak tersebar di Jakarta.
Namun, tantangannya tetap besar. Hingga Juli 2024, sekitar 25,5 juta UMKM sudah terhubung ke ekosistem digital, dari total sekitar 64,2 juta pelaku. Itu berarti konektivitasnya baru sekitar 39,7%. Di Jakarta, persentasenya bisa lebih tinggi daripada beberapa daerah, tetapi gap literasi dan kualitas pemanfaatan tetap ada. Banyak yang sudah “punya toko” di marketplace, tetapi belum memahami strategi pencarian, konten, hingga analitik sederhana. Insight yang kerap muncul: hadir di online tidak otomatis laku; UMKM perlu membangun kredibilitas, konsistensi, dan layanan. Dari sini, pembahasan beralih ke alat dan ekosistem yang membuat transformasi tersebut lebih mungkin dilakukan.

Ekosistem digitalisasi UMKM: SAPA UMKM, KUR, dan sinergi pemerintah-swasta yang memendekkan jarak
Jika penjualan online adalah “panggung depan”, maka kebijakan, pembiayaan, dan integrasi layanan adalah “panggung belakang” yang menentukan apakah UMKM bisa berlari jauh. Pemerintah mendorong berbagai skema, dan salah satu yang paling sering disebut pelaku usaha adalah KUR. Dorongan pemanfaatan KUR oleh pemerintah pusat kepada kepala daerah menegaskan bahwa akses modal tetap menjadi kunci, terutama ketika UMKM perlu membeli peralatan sederhana untuk produksi, memperbaiki kemasan, atau menambah stok untuk memenuhi lonjakan permintaan saat kampanye promo.
Dalam praktiknya, banyak pemilik usaha kecil di Jakarta mengaku tantangan terbesar bukan sekadar “tidak ada pinjaman”, melainkan proses administrasi dan kebingungan memilih program yang tepat. Karena itulah, konsep integrasi layanan menjadi penting. Aplikasi SAPA UMKM yang dikembangkan untuk menghubungkan layanan dan program dukungan dari banyak kementerian/lembaga dapat dibaca sebagai upaya mengurangi fragmentasi data dan menyederhanakan birokrasi. Ketika layanan terintegrasi, pelaku UMKM diharapkan tidak lagi berpindah-pindah kanal hanya untuk memverifikasi data, mencari pelatihan, atau menanyakan skema pembiayaan yang relevan.
Di level kota, isu legalitas dan administrasi juga ikut berevolusi. Pelaku UMKM yang ingin masuk ke kontrak B2B, memasok katering ke kantor, atau bekerja sama dengan aggregator sering membutuhkan dokumen yang rapi. Di sinilah praktik tanda tangan digital dan dokumen elektronik menjadi semakin normal. Pembahasan mengenai tanda tangan digital di Jakarta relevan untuk UMKM yang mulai berurusan dengan perjanjian kerja sama, faktur, hingga persetujuan vendor tanpa tatap muka.
Sinergi dengan pihak swasta, khususnya platform e-commerce, juga memperkaya ekosistem. Kajian literatur (2024) dan riset lanjutan (2025) menunjukkan pola yang konsisten: UMKM yang mengadopsi e-commerce cenderung mengalami perbaikan performa penjualan dan keuangan, lebih mudah mengakses pendanaan, serta punya peluang memperluas usaha. Pada sektor makanan, dukungan platform dan fasilitasi pemerintah bahkan membantu sebagian UMKM menembus pasar global, tentu dengan prasyarat: standar kualitas, keamanan pangan, dan konsistensi produksi.
Jakarta sebagai pasar besar membuat UMKM cepat merasakan manfaat sekaligus risikonya. Di satu sisi, kanal digital memang memperluas jangkauan. Di sisi lain, meningkatnya transaksi juga berarti meningkatnya risiko penipuan, pencurian akun, atau kebocoran data pelanggan. Karena itu, isu keamanan siber bukan lagi “urusan perusahaan besar”, melainkan kebutuhan dasar. Pelaku UMKM yang ingin serius di e-commerce sebaiknya mengikuti praktik yang dibahas dalam panduan keamanan siber untuk e-commerce, seperti penggunaan autentikasi ganda, pengelolaan akses admin, dan kewaspadaan terhadap tautan palsu.
Penguatan ekosistem juga menyentuh sisi kompetensi. Banyak program pelatihan dari platform maupun komunitas lokal menekankan keterampilan praktis: membuat katalog yang meyakinkan, menghitung margin setelah ongkir dan biaya platform, serta menyusun kalender promosi. Bahkan, untuk mengatasi kesenjangan literasi, beberapa inisiatif pendidikan lokal menyoroti pentingnya pembelajaran berkelanjutan sejak sekolah. Diskusi tentang literasi digital di sekolah-sekolah Jakarta menjadi relevan karena ekosistem UMKM masa depan akan banyak ditopang oleh generasi yang sejak awal terbiasa dengan keamanan data, etika digital, dan cara kerja algoritma.
Pada akhirnya, sinergi ini mengubah peta “bertahan” menjadi “bertumbuh dengan fondasi”. Ketika pembiayaan lebih mudah diakses, layanan lebih terintegrasi, dan literasi meningkat, UMKM Jakarta tidak hanya menambah kanal penjualan, tetapi membangun sistem bisnis yang lebih tahan guncangan. Dari sini, langkah berikutnya adalah memahami mesin transaksi baru yang banyak mengubah cara orang membeli: live shopping, konten video, dan optimasi toko di platform.
Strategi e-commerce yang realistis: live shopping, konten video, dan optimasi toko agar UMKM bertahan
Di lapangan, banyak UMKM Jakarta menyadari bahwa kompetisi di marketplace dan media sosial bukan sekadar perang harga. Perang sesungguhnya adalah perang perhatian. Konsumen menggulir layar cepat, membandingkan banyak toko dalam hitungan menit, lalu membeli dari penjual yang paling meyakinkan. Karena itu, strategi yang realistis untuk bertahan di pasar daring perlu memadukan tiga unsur: kepercayaan, pengalaman belanja, dan efisiensi operasional.
Salah satu fenomena yang menguat beberapa tahun terakhir adalah live shopping. Survei pihak ketiga pada 2023 menunjukkan fitur live streaming pada platform tertentu menjadi yang paling dikenal, dan banyak pelaku UMKM/brand lokal menggunakannya sebagai kanal utama karena dinilai memberi dampak omzet yang besar. Dinamika ini masuk akal untuk Jakarta: pembeli ingin melihat produk “real”, bertanya langsung, menawar bundling, lalu checkout tanpa jeda panjang. Bagi UMKM, live streaming juga menghemat biaya promosi karena konten dibuat sekaligus interaktif.
Ambil contoh “Rani” tadi. Setelah rutin live dua kali seminggu, ia menemukan pola: jam efektif adalah setelah jam kerja, dan produk terlaris bukan yang paling murah, tetapi yang paling jelas manfaatnya saat dipresentasikan. Ia belajar memperagakan tekstur sambal, menjelaskan tingkat pedas, dan memberi ide menu praktis untuk anak kos. Pada saat yang sama, ia menyiapkan stok “paket hemat” agar pembeli tidak berhenti di satu botol. Di sinilah konten video menjadi mesin transaksi, bukan sekadar hiburan.
Konten tidak harus rumit, tetapi harus konsisten. UMKM dapat meniru pola editorial sederhana: satu video edukasi (misalnya cara memilih bahan), satu video testimoni, satu video behind-the-scenes produksi, dan satu live shopping. Konten semacam ini juga beririsan dengan pembahasan tentang dinamika konten viral di Jakarta—bukan untuk mengejar sensasi, melainkan memahami apa yang membuat orang berhenti menggulir dan percaya pada sebuah brand kecil.
Checklist operasional agar penjualan online tidak “ramai sesaat”
Kesalahan yang sering terjadi adalah fokus pada traffic, tetapi lupa menyiapkan operasi. Ketika live berhasil dan pesanan melonjak, UMKM bisa kewalahan, rating turun, dan pelanggan kapok. Karena itu, perlu checklist yang membumi.
- Katalog rapi: foto jelas, variasi tertulis, dan deskripsi singkat yang menjawab pertanyaan paling sering.
- Standar respons: template chat untuk pertanyaan umum, jam operasional jelas, dan aturan retur transparan.
- Pengemasan: segel, label tanggal, dan pengaman tambahan untuk produk rapuh atau makanan.
- Manajemen stok: catatan stok harian dan batas minimum agar tidak overselling.
- Skema promo: bundling yang tidak memakan margin, misalnya “beli 2 gratis ongkir subsidi” dengan perhitungan.
Poin pentingnya adalah mengunci kualitas pengalaman belanja. Ketika kualitas konsisten, algoritma platform cenderung memberi eksposur lebih baik melalui ulasan dan tingkat pembatalan yang rendah.
Pembayaran digital dan QR: jembatan omnichannel untuk UMKM Jakarta
Di Jakarta, banyak UMKM beroperasi dalam pola campuran: punya pelanggan offline, tetapi promosi dan repeat order terjadi online. Karena itu, pembayaran digital menjadi jembatan. Integrasi QR dan dompet digital memudahkan pelanggan membayar di tempat, lalu tetap “terhubung” untuk pembelian berikutnya. Praktik seperti ini sejalan dengan meningkatnya adopsi QR di banyak kota; referensi seperti perkembangan pembayaran QR memberi gambaran bahwa tren ini bersifat lintas wilayah dan akan makin standar untuk transaksi ritel kecil.
Ketika strategi konten dan sistem transaksi sudah berjalan, UMKM memasuki fase berikutnya: mengelola logistik, ongkir, dan layanan purna jual. Di titik ini, teknologi seperti gudang pintar, analitik, dan bahkan AI logistik mulai relevan—bukan sebagai jargon, tetapi sebagai alat menekan biaya dan menjaga kecepatan kirim.
Logistik, keamanan, dan data: fondasi agar UMKM Jakarta tidak kalah oleh ongkir dan risiko
Bagi UMKM, kemenangan di penjualan online sering ditentukan oleh hal yang tampak sepele: ongkir, kecepatan kirim, dan ketepatan stok. Di Jakarta, tantangannya unik. Di satu sisi, jarak antarkawasan relatif dekat; di sisi lain, kemacetan dan pola permintaan “hari ini sampai” membuat logistik menjadi medan kompetisi. Banyak UMKM yang awalnya semangat berjualan online kemudian tersandung pada biaya pengiriman yang menggerus margin atau komplain keterlambatan.
Untuk mengatasi itu, pendekatan yang makin umum adalah transparansi ongkir dan pengelolaan gudang yang lebih rapi. Inspirasi bisa datang dari pembahasan seperti transparansi ongkir, karena prinsipnya sama: pelanggan lebih menerima biaya kirim yang jelas sejak awal daripada “kejutan” di akhir checkout. UMKM dapat menerapkan tabel ongkir internal untuk area tertentu (misalnya Jabodetabek) atau menggunakan opsi pengiriman instan hanya untuk produk margin tinggi.
Selain ongkir, masalah klasik lainnya adalah stok. UMKM yang mengandalkan pencatatan manual rentan salah hitung, apalagi saat ikut kampanye promo. Beberapa mulai mengadopsi sistem gudang sederhana atau perangkat lunak inventori berbasis cloud. Praktik pengelolaan gudang yang lebih cerdas juga dibahas dalam konteks kota lain, misalnya gudang pintar, yang menunjukkan arah industri: data stok, pergerakan barang, dan prediksi permintaan menjadi bagian dari operasi bahkan untuk skala kecil.
Di Jakarta, diskusi tentang otomatisasi logistik juga makin sering muncul, termasuk pemanfaatan AI untuk rute pengantaran atau penempatan stok. Meski terdengar “besar”, manfaatnya bisa sederhana: memilih titik drop-off yang paling efisien atau mengingatkan kapan harus restock. Untuk gambaran arah teknologinya, pelaku UMKM dapat mengikuti perkembangan seperti AI untuk logistik dan gudang di Jakarta, lalu mengambil versi yang sesuai kemampuan, misalnya memakai dashboard penjualan untuk memprediksi produk terlaris mingguan.
Keamanan juga tidak berhenti pada siber. Untuk UMKM makanan, keamanan pangan dan kepatuhan standar menjadi syarat memperluas pasar, terutama jika ingin masuk ritel modern atau ekspor. Jakarta memiliki banyak UMKM kuliner yang sebenarnya siap naik kelas, tetapi belum tertib dalam label, tanggal produksi, atau pencatatan bahan. Memperbaiki aspek ini akan membantu mereka bukan hanya mengurangi risiko komplain, tetapi juga membuka pintu kerja sama B2B. Di kota lain, pembahasan seperti keamanan pangan bisa menjadi pengingat bahwa standar tidak mengenal wilayah; begitu UMKM bermain di pasar digital, pembandingnya adalah brand dari mana saja.
Aspek lain yang sering terlewat adalah pengawasan terhadap promo palsu dan penipuan. Ketika UMKM mulai memasang iklan atau ikut program promosi, mereka perlu memastikan kanal resminya tidak ditiru pihak lain. Konsumen pun makin kritis, dan isu penipuan promo menjadi sorotan. Referensi seperti pengawasan promo palsu relevan untuk pelaku Jakarta agar membangun kebiasaan verifikasi: gunakan akun terverifikasi, cantumkan nomor layanan pelanggan, dan edukasi pembeli soal metode pembayaran resmi.
Area kunci |
Masalah yang sering muncul |
Solusi praktis untuk UMKM Jakarta |
Dampak pada penjualan online |
|---|---|---|---|
Ongkir & pengiriman |
Margin tergerus, komplain telat |
Atur batas area instan, bundling, tampilkan ongkir transparan sejak awal |
Konversi naik karena biaya jelas, ulasan membaik |
Stok & gudang |
Overselling, stok tidak sinkron |
Gunakan pencatatan harian, aplikasi inventori sederhana, disiplin restock |
Cancel order turun, performa toko stabil |
Keamanan akun |
Akun diambil alih, tautan palsu |
Aktifkan 2FA, batasi akses admin, edukasi tim |
Kepercayaan pelanggan terjaga, risiko kerugian turun |
Kualitas produk |
Retur tinggi, rating jatuh |
Standar kemasan, SOP produksi, kontrol kualitas sederhana |
Repeat order meningkat, biaya komplain menurun |
Data pelanggan |
Promosi tidak tepat sasaran |
Segmentasi sederhana (produk favorit, jam beli), catat pelanggan loyal |
Biaya promosi lebih efisien, CLV naik |
Ketika logistik, keamanan, dan data mulai tertata, UMKM Jakarta biasanya merasakan perubahan: pekerjaan harian lebih terukur, dan keputusan promosi tidak lagi berdasarkan “feeling” semata. Di titik ini, peluang berikutnya muncul: ekspansi pasar di luar Jakarta, termasuk lintas kota dan bahkan lintas negara, dengan memanfaatkan jejaring platform, pelatihan, dan kolaborasi komunitas.

Dari Jakarta ke luar kota: cara UMKM memperluas pasar daring lewat kolaborasi, ekspor, dan talenta digital
Bagi banyak UMKM di Jakarta, fase “bertahan” sering berubah menjadi fase “memperluas radius”. Setelah toko online stabil, pesanan tidak lagi datang hanya dari satu kecamatan, melainkan dari kota-kota lain. Pada tahap ini, tantangan utamanya bergeser: bagaimana mempertahankan kualitas saat volume naik, bagaimana mengelola layanan pelanggan lintas zona waktu aktivitas, dan bagaimana membangun brand agar tidak mudah tergantikan oleh kompetitor yang menjual produk serupa.
Salah satu kunci yang sering diabaikan adalah kolaborasi. UMKM yang tumbuh cepat biasanya tidak bekerja sendirian: mereka menggandeng pemasok bahan baku yang konsisten, mitra kemasan, kreator konten, hingga micro-influencer. Di Jakarta, praktik kolaborasi dengan kreator menjadi semakin lazim karena biaya akuisisi pelanggan di kanal digital cenderung naik. Pembahasan mengenai kolaborasi brand dan influencer di Jakarta relevan untuk UMKM yang ingin memaksimalkan kepercayaan publik tanpa harus belanja iklan besar-besaran. Kolaborasi yang efektif biasanya berbasis kecocokan audiens, bukan sekadar jumlah pengikut.
Ekspansi juga berarti kesiapan menghadapi standar yang lebih ketat. UMKM fesyen mungkin harus memperbaiki size chart dan konsistensi jahitan. UMKM makanan perlu menata label, komposisi, hingga daya tahan produk. Jika targetnya adalah pasar luar negeri, cerita produk dan konsistensi suplai menjadi penentu. Banyak daerah di Indonesia mendorong produk lokal masuk pasar global, misalnya pembahasan tentang ekspor produk lokal dari Makassar. Meski konteksnya berbeda, pelajarannya sama untuk UMKM Jakarta: ekspor bukan hanya soal “bisa kirim”, tetapi soal standar, dokumen, dan reputasi.
Selain ekspor, perluasan pasar bisa dilakukan dengan pendekatan omnichannel: memadukan offline dan online. Misalnya, UMKM membuka booth kecil di event komunitas Jakarta untuk membangun pengalaman produk, lalu mengarahkan repeat order ke toko online. Pola ini menurunkan ketergantungan pada satu platform. Beberapa UMKM juga memanfaatkan marketplace tematik untuk memperkuat narasi lokal. Contohnya, ekosistem seperti marketplace UMKM di Yogyakarta memberi inspirasi bahwa kurasi dan komunitas bisa menciptakan nilai tambah di luar perang harga.
Seiring meluasnya pasar, kebutuhan talenta digital ikut membesar. UMKM yang awalnya dikelola satu orang akhirnya membutuhkan admin chat, editor video, hingga orang yang paham iklan. Tidak semua UMKM mampu merekrut full-time, sehingga model kerja lepas menjadi umum. Program pelatihan talenta digital di berbagai wilayah menunjukkan arah perubahan ini; misalnya pelatihan freelancer digital dapat dipahami sebagai bagian dari tren nasional: UMKM akan ditopang oleh ekosistem pekerja lepas yang fleksibel, dari desain hingga manajemen toko.
Di tahap pertumbuhan, pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana menjaga “jiwa” usaha kecil saat skalanya membesar? Banyak UMKM Jakarta menjawabnya lewat standar kerja yang rapi tetapi tetap manusiawi: SOP pengemasan, panduan layanan pelanggan yang ramah, dan cerita brand yang konsisten. Mereka menyadari bahwa teknologi hanyalah alat; yang membuat pembeli kembali adalah pengalaman yang terasa personal. Karena itulah, UMKM yang sukses di penjualan online biasanya tidak hanya menguasai platform, tetapi juga menguasai hubungan: dengan pelanggan, mitra, dan komunitas. Insight akhirnya sederhana namun kuat: ekspansi paling aman adalah yang bertumpu pada sistem, bukan sekadar momentum.
Untuk melihat contoh praktik dan diskusi terbaru tentang live shopping serta strategi konten yang relevan bagi UMKM di kota besar, banyak pelaku usaha juga mengikuti liputan seperti dorongan live shopping sebagai pembanding pendekatan di luar Jakarta, lalu menyesuaikannya dengan karakter pelanggan ibu kota yang menuntut cepat dan transparan.